Fenomena Pisang Bertandan 3 di Kediri, Begini Penjelasan Ahli

M Agus Fauzul Hakim, Aloysius Gonsaga AE Tim Redaksi Lihat Foto Pisang bertandan 3 milik Lukman warga Desa Banjarejo, Kecamatan Ngadiluwih, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, Jumat (3/1/2025).(Dok Lukman )

Kediri – Sebuah fenomena menarik terjadi di Desa Banjarejo, Kecamatan Ngadiluwih, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Batang pohon pisang milik Lukman (53) memiliki tiga tandan buah sekaligus.

Sesuatu yang jarang terjadi karena tanaman pisang yang umumnya hanya berbuah satu tandan. Kejadian ini membuat Lukman terkejut dan bingung.

Pisang yang ditanamnya, jenis Marlin atau Berlin, mulai menunjukkan tanda-tanda berbuah setelah ditanam pada Agustus 2024.

“Saya menanamnya sudah sejak Agustus 2024,” ujar Lukman saat dihubungi awak media, Jumat (3/1/2025).

Awalnya, Lukman menemukan satu ontong atau jantung pisang. Namun, beberapa hari kemudian, ia terkejut menemukan ontong kedua muncul di samping ontong pertama.

Kejutan itu berlanjut ketika dua ontong tersebut menghasilkan ontong ketiga, sehingga total ada tiga tandan pada satu batang pohon pisangnya.

“Biasanya kan cuman satu ontong, ini kok sampai tiga ontong. Saya juga bingung kenapa bisa terjadi seperti ini,” tambahnya.

Saat ini, ketiga ontong tersebut sudah mulai merekah dan menunjukkan lapisan sisiran buah pisang yang masih muda.

Lukman juga menemukan keanehan lain pada tunas baru anakan pisang yang tampak bercabang dua, yang berpotensi menghasilkan lebih dari satu tandan.

“Semoga tandannya juga lebih dari satu,” harap Lukman.

Meski tidak memiliki perawatan khusus untuk tanaman pisangnya, Lukman mengaku hanya menggunakan pupuk kompos kandang.

Ia berencana menjaga pisang tersebut hingga matang dan siap panen, karena merasa pisang itu sebagai rezeki dan harapan baik bagi keluarganya.

“Akan saya jaga sampai matang nanti,” pungkasnya.

Menanggapi fenomena pisang bertandan tiga ini, Kepala Sub Koordinator Perbenihan dan Perlindungan Tanaman Hortikultura Dinas Pertanian Kabupaten Kediri, Vinorita, menjelaskan bahwa kemungkinan besar ini disebabkan oleh kelainan genetis.

“Jadi karena ada penyimpangan genetik. Dan itu biasa terjadi. Pada tanaman nanas juga ada kasus begitu,” ungkap Vinorita

Penyimpangan genetik ini, menurutnya, dipengaruhi oleh tingkat kesuburan tanah dan nutrisi yang diterima tanaman. Namun, ia menekankan bahwa sifat penyimpangan ini tidak stabil.

“Jika pisang tersebut ditanam di tempat lain, yang berbeda dengan ekosistem yang ada, belum tentu pula akan mempunyai tandan lebih dari satu,” ujarnya.

Vinorita juga menambahkan bahwa untuk menentukan apakah ini dapat menjadi varietas baru pisang bertandan lebih dari satu, diperlukan pengujian yang panjang, termasuk uji multi lokasi.

“Minimal 10 tahun stabil, baru bisa dikatakan sebagai suatu pelepasan varietas yang baru,” tutupnya.

Pos terkait