Studi: Kopi, Cokelat, dan Anggur Tetap Terancam meski Suhu Bumi Diturunkan

batang kopi Jenis Robusta tapak berbuah lebat. Foto: ist

Jakarta – Tanaman kopi, cokelat, dan anggur membutuhkan kondisi lingkungan yang stabil untuk tumbuh optimal. Namun, perubahan iklim membuat suhu, curah hujan, dan kelembapan bergeser secara cepat sehingga mengancam produksi tanaman di berbagai wilayah.

Studi terbaru dari Environmental Research Letters (2025) menilai bahwa teknologi Stratospheric Aerosol Injection (SAI) tidak mampu mengatasi ketidakstabilan iklim yang semakin sering muncul.

Lantas, bagaimana nasib tanaman-tanaman tersebut jika perubahan iklim terus dibiarkan?

Tanaman mewah seperti kopi, cokelat, dan anggur hanya dapat tumbuh pada rentang suhu dan kelembapan tertentu.

Peningkatan suhu menyebabkan heat stress, sedangkan perubahan curah hujan dan kelembapan memengaruhi proses pembungaan dan pematangan buah.

Studi ini mengidentifikasi “kerentanan tanaman kopi, cokelat, dan anggur terhadap perubahan iklim global” sebagai ancaman utama produksi.

Tim Colorado State University (CSU) menggunakan model iklim dan indeks agroklimatik untuk menilai masa depan tiga komoditas tersebut. Mereka menilai 18 wilayah penghasil utama di Eropa Barat, Afrika Barat, Amerika Selatan, Brasil, dan Ghana.

“Menurunkan suhu hanya dengan SAI saja tidak cukup. Misalnya, spesies kakao, meskipun lebih toleran terhadap suhu panas dibandingkan kopi dan anggur, sangat rentan terhadap hama dan penyakit yang disebabkan oleh kombinasi suhu tinggi, curah hujan, dan kelembapan,” kata peneliti utama,  Ariel L. Morrison, dikutip dari ScienceDaily, Rabu (12/11/2025).

Studi tersebut menunjukkan bahwa pendinginan buatan tidak mampu menormalkan pola hujan dan kelembapan.

Kondisi ini membuat produksi tanaman tetap tidak pasti, meskipun suhu rata-rata turun. Beberapa wilayah mengalami perbaikan, tetapi hanya enam dari 18 daerah yang menunjukkan peningkatan konsisten.

Tanaman kakao di Afrika Barat, misalnya, lebih sering terdampak black pod disease saat udara lebih lembap. Anggur juga mengalami risiko budbreak lebih awal yang membuka peluang kerusakan akibat frost risk.

Fenomena ini memperlihatkan “ketidakpastian hasil panen karena variabilitas iklim alami meski suhu diturunkan.”.

“Intervensi iklim SAI mungkin menawarkan bantuan sementara dari kenaikan suhu di beberapa wilayah, namun tidak menjamin solusi untuk tantangan yang dihadapi pertanian tanaman mewah,” lanjut Morisson.

Petani perlu menyesuaikan varietas, memperbaiki manajemen kanopi, serta meningkatkan ketahanan lahan terhadap hujan ekstrem dan kekeringan.

Pendekatan ini dianggap lebih realistis untuk menghadapi ketidakstabilan iklim dalam jangka panjang.

Pos terkait