KOTA JANTHO – Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Mountala Aceh Besar mengaku harus menambah biaya operasional pemurnian air hingga 30 persen dalam beberapa bulan terakhir. Pembengkakan biaya terjadi di Water Treatment Plant (WTP) Siron, kantor pusat PDAM.
Hal itu disebabkan tingkat kekeruhan air baku yang bersumber dari sungai mengalami peningkatan drastis.
Direktur Utama PDAM Tirta Mountala Aceh Besar, Yusmadi, melalui Direktur Umum T. Abulus Samarkhan mengatakan, proses pengolahan air baku di WTP Siron membutuhkan biaya ekstra.
“Proses pemurnian air baku di WTP Siron membengkak hingga tiga puluh persen,” kata Abulis, sapaan akrab T. Abulus Samarkhan, kepada media ini di Kantor Pusat PDAM Tirta Mountala di Siron, Ingin Jaya, Aceh Besar, baru-baru ini.
Menurut Abu Lis, pihaknya tetap berupaya memberikan pelayanan maksimal kepada pelanggan. Meski biaya pengolahan membengkak signifikan, proses pemurnian tetap dilanjutkan demi menjaga kualitas air yang diterima konsumen.
Ia menduga buruknya kondisi air baku tidak terlepas dari aktivitas di Daerah Aliran Sungai (DAS) Krueng Aceh yang meningkat akhir-akhir ini.
“Aktivitas galian tambang salah satu penyebab buruknya kualitas air baku yang kita gunakan selama ini,” ujarnya.
Selain faktor kekeruhan, faktor kemarau juga sempat mengganggu kelancaran pasokan air bersih bagi pelanggan PDAM Tirta Mountala di beberapa wilayah.
Meski demikian, pihaknya memastikan pelayanan tetap dimaksimalkan.
Abu Lis berharap pihak terkait dapat menertibkan aktivitas ilegal yang merusak lingkungan dan berdampak pada sumber daya air.
“Kita berharap pihak terkait dapat menindak dan menertibkan aktivitas perusak lingkungan guna menghindari akibat yang lebih fatal ke depan dan ancaman serius terhadap ketersediaan air di masa mendatang,” harapnya. (Dln)






