Dunia – Kepemilikan China atas obligasi pemerintah AS (US Treasuries) turun menjadi US$618,2 miliar pada November 2005, turun dibandingkan bulan Oktober 2005 sebesar US$688,7 miliar, menurut data yang dirilis Departemen Keuangan AS pada Kamis (15/1,waktu AS).
Seorang analis, seperti dikutip GlobalTimes.cn (16/1), media pemerintah China, mengaitkan penurunan tersebut dengan diversifikasi aset luar negeri China dalam beberapa tahun terakhir guna menjaga keamanan dan likuiditas aset sekaligus memastikan imbal hasil.
Pada November, kepemilikan US Treasuries oleh China mencapai level terendah sejak September 2008, ketika kepemilikan anjlok ke US$618,2 miliar. China merupakan pemegang US Treasuries terbesar ketiga di luar AS.
Namun, menurut Reuters, kepemilikannya telah turun lebih dari 10 persen sejak awal 2025.
Pada November, Jepang tetap menjadi pemegang US Treasuries terbesar di luar AS, sementara Inggris berada di posisi kedua, menurut data AS tersebut.
“Penurunan kepemilikan US Treasuries oleh China merupakan hasil dari peningkatan optimalisasi dan diversifikasi kepemilikan aset luar negeri yang terlihat dalam beberapa tahun terakhir, yang membantu memperkuat keamanan dan stabilitas keseluruhan portofolio,” ujar Xi Junyang, profesor di Shanghai University of Finance and Economics, kepada Global Times pada Jumat.
Menurut data terbaru dari People’s Bank of China (PBOC), bank sentral China, cadangan emas China tercatat sebesar 74,15 juta ons pada akhir Desember 2025, meningkat 30.000 troi ons dibandingkan bulan sebelumnya. Ini menandai bulan ke-14 berturut-turut bank sentral meningkatkan cadangan emasnya, lapor Securities Times.
PBOC kemungkinan akan terus meningkatkan cadangan emasnya ke depan, karena langkah tersebut kondusif untuk meningkatkan stabilitas aset cadangan dan memperkuat kemampuan menghadapi risiko eksternal. Selain itu, proporsi emas dalam aset cadangan China masih relatif rendah dibandingkan dengan ekonomi besar dunia lainnya, kata profesor tersebut.
Cadangan devisa China mencapai US$3,3579 triliun pada akhir Desember 2025, meningkat US$11,5 miliar atau 0,34 persen dibandingkan akhir November, menurut data resmi yang dirilis pada 7 Januari.
State Administration of Foreign Exchange (SAFE) menyatakan bahwa indeks dolar AS melemah dan harga aset keuangan global menunjukkan pergerakan yang beragam pada Desember, dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti data makroekonomi dan kebijakan moneter di negara-negara ekonomi utama.
Didorong oleh konversi nilai tukar dan perubahan harga aset, cadangan devisa China meningkat selama bulan tersebut, kata lembaga itu.
Seiring 2026 menandai tahun pertama periode Rencana Lima Tahun ke-15 (2026–2030).
“SAFE akan lebih baik mengoordinasikan pembangunan dan keamanan, serta terus membangun sistem dan mekanisme pengelolaan devisa yang lebih mudah, lebih terbuka, lebih aman, dan lebih cerdas,” ujar Li Bin, Wakil Kepala Sekaligus Juru bBicara SAFE, dalam konferensi pers pada Kamis.
Li menegaskan bahwa departemennya akan berpegang pada upaya mendorong keterbukaan tingkat tinggi, secara bertahap memperluas keterbukaan di sektor devisa, dan memfasilitasi kerja sama yang saling menguntungkan.
Ia mengatakan bahwa upaya akan dilakukan untuk secara terkoordinasi mendorong internasionalisasi yuan dan keterbukaan berkualitas tinggi pada akun modal, serta memperdalam reformasi pengelolaan devisa di bidang investasi langsung, investasi sekuritas, dan pembiayaan lintas batas.
“Upaya akan dilakukan untuk terus meningkatkan pengelolaan dan operasi cadangan devisa, serta melakukan segala upaya untuk memastikan keamanan, likuiditas, serta pelestarian dan peningkatan nilai aset cadangan devisa,” tegas pejabat tersebut. (Idnfinancial.com)





