Diduga Aksi Pedagang Nakal, di Tengah Musibah Malah Cari Untung Besar, Masyarakat Minta Pemerintah Tindak Tegas

Foto: net

Banda Aceh – Entah siapa yang memulainya?, sehingga praktik “cari kesempatan dalam kesempitan” pun terjadi, di tengah sebagain besar masyarakat Aceh sedang dilanda musibah bencana alam banjir bandang kali ini.

Patut disebut sebagai penjajah dan pengkhianat bangsa, di tengah orang sedang berduka akibat hantaman banjir bandang di hampir semua kabupaten/kota di Aceh, e ..malah para sebagian pedagang mengambil kesempatan untuk menaikkan harga barang dengan tidak relevan alias tidak kira-kira.

Terutama pada bahan pokok, jenis Cabai dengan harga mencapai Rp 300 ribu rupiah per kilo gram dan Telur ayam ras yang mencapai Rp 80 ribu per papan, dengan harga enceran rata rata Rp 5000 rupiah per butir.

Padahal, sejumlah barang tersebut bukanlah hasil pasokan pasca banjir, melainkan stok barang yang jauh j-auh hari sudah di stok di gudang milik pedagang.

“Mau tidak mau harus kita beli juga, bahkan Telor, kemana mana kita cari, katanya sudah habis stok, ” ujar salah seorang warga di Banda Aceh, kepada media ini Minggu (30/11/2025).

Harga Cabai merah dan Cabai rawet mulai naik harga sejak hari Rabu 26 November 2025, memang saat itu kondisi Aceh sedang dilanda musibah banjir dan hantaman hujan yang cukup lebat hampir di semua wilayah Aceh.

Entah siapa pedagang yang memulai, yang jelas dan dapat dipastikan, bukanlah akibat harga tebus dari petani yang mahal.

Penderitaan itu sangat dirasakan oleh seluruh masyarakat Aceh, tidak terkecuali di daerah banjir atau daerah bebas banjir.

Warga mengharapkan pemerintah dapat mengontrol praktik praktik “Jahannam” para pedagang nakal yang cari untung tak wajar saat kondisi darurat mengancam warga sedemikian rupa. Dan masyarakat juga mengharapkan pemerintah untuk dapat meninjau gudang para pedagang yang notabennya grosir, berpotensi menimbun barang bahan pokok untuk dijual dengan harga mencekik pembeli.

“Celakanya, ada pedagang yang mengaku sudah habis stok Telur, padahal digudangnya masih menumpuk, ” ucap warga yang mengaku kesal dengan sikap pedagang yang nakal dan cari untung berlebihan di tengah musibah melanda.

Dikutip dari salah satu sumber, sejak tanggal 30 November 2025, Pemerintah telah menghimbau kepada seluruh pedagang untuk tidak lagi menjual Cabai dengan harga selangit, bahkan Pemerintah juga telah memasok Cabai dari Sumatra Utara, untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di Aceh, khusus Banda Aceh, Aceh Besar dan sekitarnya.

“Pemerintah pasok Cabai dari Sumut, Harga Cabai paling tinggi Rp 110 ribu perkilogram,” demikian judul artikel yang dirilis oleh salah satu media online nasional, edisi 30 November 2025.

Masyarakat berharap agar himbauan pemerintah itu dapat dikontrol supaya praktek nakal pedagang dapat ditekan.

“Semoga dengan masuknya Cabai oleh pemerintah, nilai jual di pasaran tidak lagi mencekik pembeli, ” demikian harap wanita setengah baya ini, sembari meminta untuk tidak mempublikasikan namanya di media ini.

Secara terpisah, setidaknya ada tiga hari berturut turut harga Cabai dan sejumlah bahan pokok melonjak tinggi harganya, namun pada Minggu 30 November 2025, harga Cabai sudah mulai turun pada angka Rp 150 ribu rupiah, sementara Telor ayam belum diketahui secara pasti, sebab telur ayam masih langka di pasaran.

Pos terkait