Kota Jantho – Musim angin tidak selamanya jadi musibah, tapi bila dapat dimanfaatkan justru jadi berkah.
Sebut saja musim layang -layang. Layang- layang sejak dulu dan hampir di seluruh indonesia dikenal dan kerab dijadikan mainan yang menyenangkan terutama bagi para remaja dan kaula muda, mulai sekadar hiburan hingga ajang kompetisi.
Kecuali itu, layang -layang ternyata juga menjadi sumber cuan. Dimana para perajin layang-layang menekuni membuat layang -layang, selanjutnya dijual secara jajakan.
Tak tanggung- tanggung harganya mulai 30 ribu rupiah hingga ratusan ribu rupiah.
Meski modalnya hanya belahan bambu dan kertas, jika ditotalnyan modal hanya berkisar Rp 5000, tapi dapat ditawarkan ke pasaran hinga ratusan ribu rupiah, tergantung kerumitan membuatnya.
“Kalau saya menjualnya sekitar lima puluh ribu hingga seratus ribu rupiah, ” kata Bustaman, warga Komplek Perumahan Care, Kota Jantho, Kamis (11/9/2025) di Kota Pusat pembuatan layang layang di Gampong Teureubeh.
Bustaman yang notabennya adalah seorang tukang bangunan, mengaku membuat layang -layang tersebut sambil mengisi waktu kosongnya di sela sela melakukan pekerjaan rutinnya.
Sedikitnya perajin layang layang mampu memproduksi 2 hingga 3 layang layang perhari dengan kisaran pendapatan mulai dari Rp 100 ribu hingga Rp 150 ribu.
Kilas balik Zaman Sekarang dan Dahulu
Bila kita review 25 tahun lalu, tradisi layang -layang tersebut juga tidak kalah asyiknya malah para remaja bela belain mengumpulkan uang jajannya untuk membeli sejumlah perlengkapan dan peralatan untuk membuat layang-layang.
Umumnya layang layang dibuat sendiri bersama teman -teman seusianya dan tidak mengandalkan beli di pasar atau pada pengrajin, terutama bagi para remaja yang mendiami perkampungan jauh dengan kota.
“Artinya” Tingkat kreatifitas para remaja saat itu jauh lebih kreatif dibandingkan dengan para remaja zaman sekarang, entah itu dipengaruhi oleh kondisi ekonomi atau memang akibat perubahan zaman sekarang yang serba instan.
Penulis yang hidup remaja saat itu, masih teringat persis, permainan tidak cuma pada mainan layang -layang, tetapi ada juga permainan lain yang juga tidak kalah serunya, misalnya permainan meriam bambu yang terfokus pada musim bulan Ramadhan hingga malam idul fitri, permainan tembak mainan yang menjadi permainan tanpa batas waktu dan cukup menikmatinya karena mainan tersebut terbentuk sinema langsung berupa perang antar kelompok, namun tetap dalam kontek permainan yang tetap diproduksi oleh tangan tangan lembut para remaja-remaja bersangkutan tanpa mengandalkan jual beli Seperti saat sekarang ini.
Membangkitkan Semangat Berbudaya
Meski layang -layang hanya sekadar bagian bambu dan kertas serta benang yang digabungkan selanjutnya dimainkan dengan bantuan angin, tapi cukup besar nilai kekhasan ahan tradisi dalam permainan tersebut, salah satunya adalah mencegah para remaja dari pengaruh efek buruk technologi Ganged, terlestarinya hiburan murah meriah, terbangun sikap persatuan dan kesatuan dan mengontrol emosi profesional dalam menerima kekalahan dan kemenangan lawan dalam sebuah kompetisi.
Yang cukupenggembirakan, bilamana layang -layang putus dari benangnya saat dioperasikan seluruh pemain layang-layang setiap membantu dalam mencari beradaannya, kecuali bila jangkauan tidak dapat dijangkau dari kapasitas para remaja yang terlibat bermain pada saat itu.





