Halaqah di Balee Beut Meuligoe, Abah Mengulas Seputar Halal-haram Hubungan Antarmanusia

Pj Bupati Aceh Besar Muhammad Iswanto SSTP MM bersama para kepala OPD dan masyarakat sekitaran Kota Jantho mengikuti Halaqah Pengajian Rutin Kamis Malam Jumat yang diasuh Oleh Ust Abah Junaidi di Balee Beut Meuligo Kota Jantho, Kamis (19/12/2024) malam. Foto: Ist

Kota Jantho – Rutinitas pengajian atau halaqah malam Jumat yang sudah berlangsung selama dua tahun di Balee Beut Meuligoe Bupati Aceh Besar, hingga kini terus berlangsung. Kamis (19/12/2024) tadi malam, pengasuh tetap pengajian, Teungku Junaidi Nasruddin atau lazim disapa Abah Junaidi, membahas seputar halal haram hubungan antarmanusia. Baik sesama di dalam rumah tangga maupun di luar hubungan kekerabatan.

“Kita harus mengetahui ini secara jelas, hingga terhindari dari dosa yang kadang tidak kita ketahui sebelumnya,” kata Abah.

Menurut pengasuh Dayah Mahadal Fata Lamkabeu Kecamatan Seulimuem itu, tata hubungan antarmasnusia itu juga bagian dari fiqih. Hanya saja jika terkait fiqih, ummat Islam harus mendahulukan penguasaan dan pengamalan terkait ibadat yaitu pelaksanaan seluruh Rukun Islam yang lima, mulai dari mengucapkan kalimah syahadat hingga melaksanakan Ibadah Haji.

“Ingat, semua rukun itu diamalkan dengan landasan ilmu dan sifatnya fardhu ain. Setelah itu dipahami dan dijalankan, barulah kita melaksanakan amalan keseharian yang lain, seperti hubungan antarmanusia,” tutur Abah yang juga Imuem Chik Masjid Agung Al Munawarrah Kota Jantho.

Abah mencontohkan salah satu amalan sunat dalam kaitan hubungan antarmanusia adalah menikah. Namun diingatkan agar setiap lelaki yang ingin berumahtangga harus memiliki modal untuk berumahtangga, karena ini menyangkut nafkah kehidupan terhadap anak dan istri.

“Makanya, dibenarkan seorang ummat Islam menolak nikah dan mengutamakan ibadat, dengan pertimbangan kemampuan untuk menjalankan rumah tangga itu sendiri. Kalaupun ada keinginan untuk menikah, namun tak ada muknah atau belanja, maka berpuasalah. Dan jangan sesekali ‘melemahkan’ syahwat dengan obat, karena itu juga berdausa,” tandas Abah di depan puluhan jamaah Balee Beut Meuligoe, malam itu.

Pada sisi lain Abah membahas seputar halal haram dalam tata pergaulan menurut kaedah syariah.

“Melihat seorang wanita yang muhrim atau bukan muhrim boleh saja, tapi ketika diikuti dengan selera syahwat, itu sudah tak dibenarkan atau haram. Termasuk mendengarkan suara wanita boleh boleh saja, namun jangan bercampur dengan nafsu syahwat, karena itu sudah menjadi haram. Atau jangan sampai jadi fitnah!” tegas Abah.

Hal yang sama juga terhadap anak sendiri sekalipun, ketika kasih sayang malah berubah menjadi muncul syahwat, itu tetap haram hukumnya. Di sisi lain disunatkan saling berjabat tangan lelaki sesama lelaki dan wanita sesama wanita. Namun akan menjadi makruh ketika kita takzim kepada orang karena banyaknya harta. Karena itulah, cium tangan orang yang berilmu yang dihargai karena ilmunya.

Di bagian lain, Abah Junaidi membahas tentang penyakit hati, yaitu hasad dan dengki, yang juga disebutkan sebagai penghulu dari segala kejahatan.

“Bersihkan penyakit hati dengan mengaji, karena dengki terhadap orang, malah kita sendiri yang dapat mudharat, sementara orang yang kita hasad malah dapat ketenangan bathin. Mengaji dan berzikirlah untuk mengurangi hasad, karena itu bentuk redha kepada kehendak Allah. Hasad termasuk menyangkut melawan takdir Allah,” pungkas Abah.

Seperti biasa, pengajian itu juga diwarnai dengan dialog interaktif antara Abah Junaidi dengan jamaahnya.
Halaqah di Balee Beut Meuligoe tadi malam, juga dihadiri oleh Penjabat (Pj) Bupati Muhammad Iswanto selaku tuan rumah serta beberapa unsur OPD dan jamaah lain dari seputaran Kota Jantho.

Pos terkait