Luar Negeri – Pejabat pemerintahan Presiden Donald Trump mengakui dalam pengarahan tertutup di Capitol Hill bahwa drone serang satu arah (kamikaze) Shahed milik Iran menjadi tantangan besar bagi pertahanan udara AS.
Menteri Pertahanan Pete Hegseth dan Ketua Gabungan Kepala Staf Dan Caine menyebut drone yang terbang rendah dan lambat itu lebih sulit dicegat dibanding rudal balistik, sehingga tidak semuanya bisa diintersepsi.
Seperti dikutip CNN, meski demikian, pejabat berusaha meredakan kekhawatiran dengan menyatakan negara-negara Teluk telah menimbun rudal pencegat.
Mereka menegaskan tujuan operasi adalah menghancurkan kemampuan rudal dan angkatan laut Iran, menggagalkan ambisi nuklir, serta menghentikan dukungan Teheran kepada kelompok militan, bukan secara langsung mendorong perubahan rezim.
Dalam paparan tersebut, kematian Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei pekan lalu disebut telah memicu proses suksesi yang kompleks, tanpa kejelasan siapa penggantinya.
Trump mengklaim sebagian besar instalasi militer Iran telah dihancurkan dan serangan terbaru menyasar pucuk pimpinan negara itu.
Sejumlah anggota parlemen memberikan perkiraan berbeda soal durasi konflik. Senator Republik Tommy Tuberville mengatakan operasi bisa selesai dalam tiga hingga lima minggu, sementara Senator Josh Hawley menilai penjelasan pemerintah terkesan tanpa batas waktu.
Pemimpin Minoritas DPR Hakeem Jeffries memperingatkan perang dapat berlangsung berminggu-minggu dan menyoroti tidak adanya otorisasi Kongres.
Demokrat juga cemas terhadap cadangan amunisi AS. Senator Mark Kelly mengingatkan persediaan tidak tak terbatas, sementara Iran memiliki stok besar drone dan rudal. Di sisi lain, Ketua DPR Mike Johnson menyebut aksi militer itu sebagai “operasi”, bukan perang, meski tanpa deklarasi resmi dari Kongres.
Upaya di DPR dan Senat untuk mewajibkan persetujuan Kongres diperkirakan gagal. (IDN)





