Banda Aceh — Muzakarah Internasional Ulama Tauhid Sufi ke-II memasuki hari kedua dengan membahas peran tasawuf dalam memperkuat persatuan umat, kerukunan antaragama, dan perdamaian dunia.
Forum yang mempertemukan ulama, akademisi, dan cendekiawan Muslim lintas negara ini menyoroti pentingnya nilai ihsan, penyucian jiwa, pengendalian diri, dan pembinaan akhlak dalam menghadapi tantangan masyarakat modern.
Dalam diskusi yang berlangsung di Gedung Meuseuraya Aceh, Minggu (11/10/2016), para tokoh islam Asean ini menegaskan bahwa tasawuf tidak hanya berkaitan dengan spiritualitas individu, tapi juga menjadi landasan pembentukan karakter, penguatan persaudaraan, penghormatan terhadap perbedaan, dan penyelesaian konflik melalui dialog serta kasih sayang.
Muzakarah hari kedua hari ini menghadirkan narasumber dari Maroko, Kamboja, dan Malaysia yang membagikan perspektif mengenai spiritualitas Islam, kerukunan sosial, serta pendidikan tasawuf dalam membangun peradaban yang damai.
Sheikh Dr. Aziz El Kobaiti Idrissi Al-Hassani: Tasawuf sebagai Jembatan Antarperadaban
Sheikh Dr. Aziz El Kobaiti Idrissi Al-Hassani asal Maroko, yang juga hadir sebagai Presiden International Academic Center for Sufi and Aesthetic Studies (IACSAS) di Fez dan Direktur Jenderal Fez International Sufi Conference, mengatakan dalam perspektif tasawuf, penyucian jiwa (tazkiyatun nafs) dan cinta (mahabbah) menjadi prinsip penting dalam membentuk manusia yang berakhlak, mampu mengendalikan diri, serta menghormati sesama.
“Perubahan kehidupan tidak cukup dilakukan melalui pembenahan lahiriah, tetapi perlu disertai pemurnian niat, pembinaan batin, dan perbaikan perilaku, ” katanya.
Ia melanjutkan, bahwa nilai kasih sayang, kerendahan hati, dan penghormatan terhadap martabat manusia akan dapat mempererat hubungan sosial serta mengurangi permusuhan. Karena itu, tasawuf memiliki relevansi dalam menjembatani perbedaan budaya dan pandangan serta memperkuat dialog antarperadaban.
Pembahasan tersebut juga menyoroti kontribusi tradisi tasawuf Maroko dan Afrika Utara terhadap perkembangan keilmuan serta pendidikan spiritual Islam. Fez dikenal sebagai salah satu pusat keilmuan Islam, sementara pengalaman masyarakat Afrika yang beragam dapat memperkaya pertukaran pemikiran mengenai spiritualitas dan perdamaian.
Meski demikian, Afrika memiliki sejarah, budaya, dan tradisi keagamaan yang beragam sehingga tidak dapat dipandang sebagai satu tradisi yang seragam.
“Pengalaman Maroko menjadi salah satu perspektif yang dapat memperkuat dialog antara Afrika dan Asia Tenggara dalam mengembangkan pendidikan akhlak, penghormatan terhadap sesama, dan penyelesaian perbedaan secara damai, ” demikian paparnya.
H.E. Dr. Yob Ahskary: Memperkuat Kerukunan Antarumat Beragama
Perspektif yang hampir sama juga disampaikan oleh narasumber dari Kamboja, H.E. Dr. Yob Ahskary, yang juga dikenal sebagai Asyary bin Aiyob.
Menurut dia, pentingnya nilai keagamaan dalam menjaga kerukunan dan keharmonisan masyarakat.
“Pengalaman Kamboja memberikan gambaran mengenai kehidupan komunitas Muslim Cham di tengah masyarakat yang mayoritas beragama Buddha. Keberagaman tersebut menunjukkan pentingnya komunikasi terbuka, penghormatan terhadap perbedaan, dan dialog dalam menjaga hubungan sosial, ” terangnya.
Pengalaman Kamboja turut memperkaya diskusi mengenai peran pendidikan agama dan pembinaan spiritual dalam menumbuhkan tanggung jawab sosial, memperluas kerja sama, serta membangun perdamaian yang berkelanjutan.
“Dalam konteks ini, nilai-nilai tasawuf seperti kasih sayang, kebijaksanaan, pengendalian diri, dan akhlak mulia dapat membantu memperkuat kepercayaan antarkelompok serta mencegah berkembangnya prasangka dan permusuhan, “tambahnya lagi.
Dato’ Haji Shushilil Azam bin Shuib: Pendidikan Tasawuf dalam Dunia Modern
Sementara dari negeri tetangga Malaysia yang disampaikan oleh Dato’ Haji Shushilil Azam bin Shuib membahas relevansi pendidikan tasawuf dalam pengembangan pendidikan Islam kontemporer.
Ia menekankan bahwa pendidikan tidak hanya bertujuan meningkatkan kemampuan intelektual, tetapi juga membentuk karakter, integritas, kematangan spiritual, dan kepedulian sosial. Melainkan ilmu tasawuf juga dapat menjadi salah satu landasan untuk mengintegrasikan ilmu pengetahuan dengan pembinaan akhlak.
“Nilai wasathiyah atau moderasi, zuhud atau sikap tidak berlebihan terhadap kehidupan dunia tanpa meninggalkan tanggung jawab dan produktivitas, serta ukhuwah atau persaudaraan dipandang penting dalam membangun keseimbangan antara ilmu, spiritualitas, dan kehidupan sosial, ” ujarnya.
Katanya, Pendidikan tasawuf juga dinilai relevan untuk menghadapi tantangan krisis identitas dan moral di kalangan generasi muda. Penguatan spiritual diharapkan melahirkan pribadi yang teguh memegang nilai, mampu mengendalikan diri, serta bertanggung jawab terhadap masyarakat.
“Integrasi ilmu dan akhlak menjadi bagian penting dalam membangun pendidikan Islam modern agar kemajuan intelektual berjalan seiring dengan pembentukan karakter. Kerja sama pendidikan dan pertukaran gagasan lintas negara juga dinilai dapat memperkuat upaya tersebut, ” demikian pencerahannya.
Hasil Diskusi akan Dijadikan Rekomendasi Bersama
Muzakarah pada hari kedua ini sekaligus menggelar Diskusi umum, melibatkan ulama, akademisi, mahasiswa, dan perwakilan organisasi Islam dari berbagai negara. Pertukaran pandangan tersebut memperkaya pembahasan mengenai peran tasawuf dalam menjawab tantangan kehidupan individu, masyarakat, hingga hubungan antarbangsa, sehingga melahirkan beberapa rekomendasi bersama.
Sejumlah pendapat yang dihasilkan dari diskusi tersebut nantinya akan dijadikan sebagai poin-poin rekomendasi dan akan disampaikan pada saat penutupan yang akan dilaksanakan hari ini juga.
“Masukan dari pembahasan hari kedua akan dirumuskan menjadi rekomendasi bersama untuk dibacakan pada acara penutupan. Rekomendasi tersebut diharapkan menjadi landasan bagi penguatan pendidikan spiritual, pengembangan dialog antarperadaban, serta peningkatan kerja sama ulama dan cendekiawan Muslim lintas negara, ” demikian informasi yang disampaikan oleh panitia di ujung diskusi internasional itu berakhir siang tadi. (SW/Red).





