Luar Negeri – Setelah perundingan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran di Pakistan buntu, Presiden AS Donald Trump memerintahkan militernya untuk memblokade selat Hormuz sejak Senin (13/4/2026).
Namun tampaknya upaya yang bertujuan untuk memberikan tekanan kepada Teheran tersebut dinilai tidak berhasil. Dalam 24 jam pertama sejak operasi blokade AS di Selat Hormuz dimulai, setidaknya tujuh kapal telah berhasil lolos, termasuk empat kapal tanker yang terkait dengan Iran.
Satu di antaranya adalah kapal milik China yang dikenai sanksi oleh AS pada tahun 2023 karena mengangkut minyak Iran. Kapal ini terlihat di sisi lain Selat di Teluk Oman pada hari Selasa (14/4/2026).
Kapal tanker lain yang dikenai sanksi, Rich Starry, bahkan menjadi yang pertama berhasil melewati selat dan keluar dari Teluk, menurut data dari LSEG dan Kpler.
Banyak pihak menafsirkan blokade AS sebagai upaya menargetkan armada bayangan Iran yang membawa pasokan minyak ke China.
Tujuan blokade AS di Selat Hormuz belum jelas

Andrea Ghiselli, asisten profesor hubungan internasional Universitas Fudan Beijing, dalam analisis untuk lembaga think tank Lowy Institute Australia, mengatakan bahwa tujuan akhir dari blokade tersebut belum jelas.
“Salah satu kemungkinan penjelasannya adalah untuk menekan negara-negara pengimpor minyak Iran, terutama China, agar mendesak Iran untuk menerima syarat-syarat AS untuk mengakhiri perang,” kata Ghiselli dilansir Newsweek, Selasa (14/5/2026).
“Namun, ada laporan tentang kapal milik China, yang dikenal memfasilitasi perdagangan minyak Iran dan dikenai sanksi, telah melintas melalui Selat tanpa dihentikan, (sehingga) hipotesis pertama itu tampaknya salah,” lanjut dia.
Para analis mengatakan bahwa yang pasti, Trump menerapkan blokade di Selat Hormuz untuk mencoba merugikan perekonomian Iran.
Namun justru menjadi dilema karena juga akan memperparah.
“guncangan pasokan minyak global terburuk dalam sejarah,” kata CEO Rapidan Energy Group, Scott Modell, kepada Newsweek.
“Pada dasarnya, dia (Trump) menerima kenaikan harga minyak sebagai harga yang harus dibayar untuk membangun pengaruh tambahan ini, dengan bertaruh bahwa kesabaran masyarakat AS terhadap harga bensin di atas 4 dolar AS lebih besar daripada kesediaan Iran untuk menanggung penderitaan ekonomi,” sambungnya.
Manfaatkan Perbatasan Menurutnya, dampak ekonomi global akan terus berlanjut karena kemungkinan besar pelayaran internasional akan terus menghindari selat itu akibat premi asuransi yang tinggi.
Kapal-kapal juga kemungkinan khawatir akan dimulainya kembali serangan Iran di Teluk dan terhadap lokasi energi negara-negara Teluk jika gencatan senjata gagal.
Sebelumnya, militer AS mulai menerapkan blokade lalu lintas maritim menuju dan dari pelabuhan Iran pada Senin (13/4/2026), sesuai instruksi Presiden AS Donald Trump.
Blokade tersebut akan berlaku untuk kapal-kapal dari semua negara yang memasuki atau meninggalkan pelabuhan dan wilayah pesisir Iran, termasuk semua pelabuhan Iran di Teluk Arab dan Teluk Oman.
Dikutip dari Sumber lainnya, menyebutkan Aksi Trump terhadap selat Hormuz tidak seharusnya terjadi, mengingat kondisi yang ditimbulkan bukan memberikan kemudahan bagi siapapun, melainkan memperparah suasana ekonomi dunia.
“Itu aksi “gila”, sekarang semakin memperburuk suasana ekonomi global,” ujar sumber tersebut kepada media ini via telpon seluler, Rabu (15/4/2026).
Sumber ini juga menilai aksi AS-Trump dimaksud tidak tertutup kemungkinan akan menjadi bumerang bagi AS sendiri, jika tidak segera menghentikan perbuatan bejat dan “menyiksa” ekonomi dunia seperti itu, sebab bisa saja dunia atau selruruh negara di dunia akan kecewa dan marah kepad AS-Trump.
“Tidak tertutup kemungkinan AS-Trump Bakal Jadi Musuh Dunia,” demikian sebutnya. (Berbagai Sumber/Redaksi)




