Luar Negeri – Sedih adalah kata untuk menggambarkan perasaan kala melihat anak-anak yang berbalut perban atau bahkan kafan. Walakin, tak ada kata yang tepat untuk menggambarkan perasaan kala melihat anak-anak yang tertawa bersama sembari memperagakan proses pemakaman.
Dalam video yang beredar pada akhir Maret 2026 itu, sejumlah anak Gaza sedang bermain di antara tenda pengungsian. Mereka tertawa seperti layaknya anak-anak di berbagai tempat lain. Mereka juga bermain boneka seperti lazimnya anak-anak di tempat lain.
Bedanya, boneka yang mereka mainkan sudah lusuh. Mereka memperagakan proses pemakaman boneka itu.
Pemakaman adalah pemandangan sehari-hari di Gaza sejak 8 Oktober 2023. Bayi sampai manula bisa setiap saat tewas di Gaza. Entah tertimpa puing bangunan. Entah terkena peluru atau bom Israel.
Salah satu pemakaman di Gaza berlangsung pada Selasa (14/4/2026). Warga Gaza City mengantar jenazah Islam Quneita, editor pada laman Palestine Now, yang tewas akibat serangan Israel pada Rabu.
Mendiang Quneita, bersama ribuan warga lain di Gaza, sudah bertahun-tahun tinggal di tenda. Berulang kali mereka harus pindah. Sebab, lokasi tenda mereka diserang Israel.
Wujud siksaan
Francesca Albanese menyebutkan, pemaksaan pindah adalah salah satu wujud siksaan Israel kepada warga Palestina. Albanese, Pelapor Khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Palestina, mencantumkan daftar siksaan itu dalam laporan ”Penyiksaan dan Genosida”.

Laporan itu disusun, antara lain, berdasarkan kesaksian lebih dari 300 korban. Ada juga berbagai laporan dari beragam lembaga di Israel dan Palestina yang jadi acuan penyusunan laporan Albanese.
”Penyiksaan selalu menjadi ciri utama perampasan tanah Palestina oleh Israel. Namun, sejak Oktober 2023, Israel telah menggunakan penyiksaan dalam skala yang menunjukkan pembalasan kolektif dan niat destruktif,” tulis Albanese.
Penyiksaan tidak cuma terjadi di penjara. Seluruh Tepi Barat dan Gaza telah menjadi penjara bagi Palestina. ”Otoritas Israel telah merekayasa ’lingkungan penyiksaan’ yang dirancang untuk menghancurkan perlawanan, martabat, dan keteguhan,” lanjut Albanese.
Orang Palestina disiksa lewat pengungsian massal, pengepungan, dan perintangan pengiriman bantuan kemanusiaan. Warga Palestina jadi sasaran perampasan dan perusakan aneka harta benda.
Para pejabat Israel tak segan mengakui, tujuan utama semua tindakan itu adalah pemindahan paksa warga Palestina. Dengan demikian, pencaplokan lahan warga Palestina oleh pemukim ilegal Yahudi bisa lebih leluasa.
Di Tepi Barat, tak pernah ada pekan tanpa laporan serangan pemukim ilegal Yahudi terhadap warga Palestina. Muslim atau Kristiani sama- sama jadi sasaran pemukim ilegal Yahudi.
Seperti disaksikan tim jurnalis CNN pada Maret 2026, aparat Israel praktis tak berbuat apa-apa jika pemukim ilegal menyerang warga Palestina. Aparat akan bertindak kalau ada jurnalis atau pihak lain mendekati warga Palestina untuk menanyakan dampak serangan.
Bahkan, warga Yahudi Israel yang membantu warga Palestina pun akan diserang. Hal itu dialami Edi Cohen, perempuan yang diserang pemukim Yahudi. Ia menceritakan trauma itu di televisi Israel, Channel 12.
Kalau melawan, warga Palestina bisa ditangkap. Kebanyakan dengan alasan pelaku teror.
Dengan dalih pemberantasan teror, aparat Israel menyerbu kota-kota di Tepi Barat. Sejak Oktober 2023 saja, ribuan orang ditangkap lalu ditahan.
Sebagian ditahan bertahun-tahun tanpa pernah diadili. Israel memakai istilah Penahanan Administratif untuk kebijakan itu.
Alasannya bisa apa saja dan hanya diketahui Israel. Tak ada sidang berarti tak ada pendampingan hukum. Masa penahanan administratif tak ada batasnya.
Lembaga HAM Israel, B’Tselem, mencatat bahwa kini hampir 1.500 warga Palestina berstatus tahanan administratif. Komunitas Tahanan Palestina menyebutkan, salah satu korban kebijakan itu ialah Nabil Mohammad Bani Namra (39).
Ia seharusnya bebas pada Senin (13/4/2026) setelah dipenjara 12 tahun oleh Israel. Walakin, pada 9 April 2026, Israel mengumumkan, ia dikenai empat bulan penahanan administratif.
Kalaupun ada ”kabar baik”, setidaknya Bani Namra masih hidup. Dalam tiga tahun terakhir saja, terverifikasi 85 warga Palestina tewas dalam tahanan Israel.
Sudah meninggal tak berarti bebas dari siksaan Israel. Seperti pernah ditulis Adahdouh pada pertengahan 2024, sebagian warga Gaza cemas jenazah mereka tak pernah dimakamkan secara layak.
Berbagai pihak menduga, ada ribuan orang Palestina terkubur di bawah puing bangunan yang diledakkan Israel. Di Gaza, tulis Adahdouh, orang bukan cuma tewas. Orang tewas dengan cara paling mengerikan…. (AP/Kompas.com/Redaksi)




