Puluhan Hektar Lahan Terbakar di Aceh Barat

Tampak dari atas sejumlah titik api masih mengeluarkan asap yang tebal, kebakaran ini terjadi sejak akhir Mei lalu hingga sekarang masih dalam proses pemadaman pihak terkait. Foto: ist

Meulaboh – Asap masih menggantung di langit sebagian wilayah Aceh Barat. Di balik hamparan lahan yang menghitam akibat kebakaran, tersimpan kisah perjuangan para petugas yang siang dan malam berjibaku melawan api, serta kegelisahan warga yang harus hidup berdampingan dengan asap yang terus menyelimuti lingkungan mereka.

Sejak akhir Mei 2026, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melanda sejumlah kawasan di Kabupaten Aceh Barat. Sedikitnya 29,1 hektare lahan terbakar di empat kecamatan, yakni Bubon, Johan Pahlawan, Arongan Lambalek, dan Meureubo. Dari seluruh wilayah terdampak, Kecamatan Bubon menjadi kawasan yang mengalami kerusakan paling luas dengan sekitar 25 hektare lahan hangus dilalap api.

Bagi sebagian orang, angka-angka itu mungkin hanya data. Namun bagi masyarakat yang tinggal di sekitar lokasi, kebakaran tersebut menghadirkan kenyataan yang tidak mudah. Udara yang biasanya segar kini bercampur bau asap. Langit yang cerah berganti dengan kabut tipis yang mengganggu pandangan. Anak-anak, lansia, dan warga yang memiliki gangguan pernapasan menjadi kelompok yang paling merasakan dampaknya.

Di tengah kondisi itu, para petugas gabungan terus berjuang tanpa mengenal waktu. Mereka harus menembus medan yang sulit, berjalan di lahan yang kering dan rapuh, sambil menghadapi kepulan asap tebal yang membatasi jarak pandang. Angin yang bertiup kencang sering kali membuat api kembali menyala dan menjalar ke area lain, seolah tidak ingin menyerah.

Setiap titik api yang berhasil dipadamkan menjadi harapan baru. Namun harapan itu kerap diuji oleh kondisi alam yang tidak mudah diprediksi. Hingga Senin (8/6/2026), sejumlah titik masih mengeluarkan asap dan berpotensi kembali memicu kebakaran apabila cuaca berubah lebih panas dan kering.

Untuk mempercepat penanganan, BPBD Aceh Barat mengerahkan personel dan peralatan ke lokasi terdampak. Dukungan juga datang dari TNI, Polri, petugas pemadam kebakaran, Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH), serta masyarakat yang ikut turun membantu. Sebuah helikopter water bombing dari BNPB telah disiapkan, meski pelaksanaannya sempat tertunda akibat cuaca yang kurang mendukung dan berisiko bagi penerbangan.

Tak hanya itu, BNPB juga melakukan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) sebagai upaya menghadirkan hujan di wilayah terdampak. Semua ikhtiar dilakukan dengan satu harapan yang sama: agar api segera padam dan masyarakat dapat kembali menjalani aktivitas dengan aman.

Kabar baiknya, sekitar 70 persen area yang terbakar telah berhasil dipadamkan. Namun perjuangan belum berakhir. Di sejumlah lokasi masih terlihat kepulan asap yang menjadi tanda bahwa petugas harus tetap siaga.

Karhutla Aceh Barat bukan sekadar tentang lahan yang terbakar. Peristiwa ini mengingatkan bahwa bencana meninggalkan dampak yang dirasakan banyak orang, mulai dari petugas yang mempertaruhkan tenaga dan keselamatan di lapangan hingga warga yang setiap hari menghirup udara yang kualitasnya menurun.

Di tengah segala keterbatasan dan tantangan, semangat gotong royong menjadi kekuatan utama. Harapan kini tertuju pada cuaca yang lebih bersahabat, hujan yang segera turun, serta kesadaran bersama untuk menjaga lingkungan agar peristiwa serupa tidak kembali terulang.

Sebab ketika api membakar lahan, yang hilang bukan hanya hamparan tanah dan vegetasi. Ada kualitas udara yang menurun, ada rasa nyaman yang terganggu, dan ada kekhawatiran yang menyelimuti kehidupan masyarakat. Itulah sebabnya, setiap titik api yang berhasil dipadamkan bukan sekadar keberhasilan operasi, melainkan juga secercah harapan bagi warga Aceh Barat untuk kembali menghirup udara yang lebih bersih dan menjalani hari-hari mereka dengan tenang. (Tim)

Pos terkait