Pagi di Simpang Galon, gerbang kawasan Darussalam, dulu selalu menyimpan harapan bagi sebuah keluarga kecil. Di sudut jalan itu berdiri kios merah sederhana yang setiap hari menjadi tempat seorang anak yatim mencari nafkah. Tidak mewah, tidak besar, hanya bangunan kecil berisi aksesori ponsel, pulsa, dan kebutuhan ringan lainnya. Namun bagi satu keluarga, kios itu adalah penyangga hidup.
Dua tahun lalu ayah anak muda itu meninggal dunia. Sejak saat itu, hidup keluarga mereka berubah. Ia harus tumbuh dewasa sebelum waktunya. Di pundaknya jatuh beban untuk membantu ibu dan menanggung empat adiknya. Total lima bersaudara menggantungkan masa depan pada usaha kecil tersebut.
Setiap pagi ia membuka kios dengan doa sederhana: semoga ada rezeki hari ini, semoga bisa membeli beras, membayar listrik, dan menyisihkan uang sekolah adik-adiknya. Dari kios kecil itulah keluarga itu bertahan. Tidak ada kemewahan dalam hidup mereka, hanya perjuangan dan harapan agar tidak jatuh lebih dalam ke jurang kemiskinan.
Namun harapan itu perlahan direnggut. Seorang oknum dosen yang sebelumnya dikenal aktif tampil sebagai pengamat di media massa, belakangan justru sibuk menyoroti kios kecil tersebut. Melalui media sosial, ia disebut sangat aktif memprovokasi aparat pemerintah dan Satpol PP agar menertibkan kios itu.
Yang membuat warga heran, sorotan itu terasa begitu khusus. Bukan seluruh kios atau bangunan lain di kawasan Darussalam yang menjadi perhatian utamanya, tetapi justru kios merah tempat anak yatim itu mencari nafkah. Banyak yang bertanya-tanya, mengapa keberanian begitu besar hanya diarahkan kepada usaha kecil milik keluarga miskin?
Akhirnya tekanan itu berujung pada penggusuran. Anak yatim itu disuruh pindah. Kios yang selama ini menjadi sumber hidup keluarga mereka harus ditinggalkan. Pintu usaha yang selama ini menopang lima bersaudara tertutup seketika.
Kini mungkin si oknum dosen bisa tersenyum puas. Provokasi yang ia lakukan dianggap berhasil. Suara lantangnya didengar. Tekanan yang ia bangun membuahkan hasil. Namun senyum itu tidak hadir di rumah anak yatim tersebut.
Di rumah sederhana itu, yang ada justru air mata. Seorang ibu memikirkan dari mana uang belanja akan datang. Adik-adik yang masih sekolah mulai cemas apakah biaya pendidikan mereka masih bisa dibayar. Anak sulung yang selama ini berjuang keras kini hanya menatap kosong tempat usahanya yang telah tiada.
Yang paling menyayat hati, anak yatim itu tidak meminta bantuan siapa pun. Ia tidak mengganggu orang lain. Ia hanya memilih jalan halal dengan berjualan demi menyambung hidup keluarganya. Tetapi perjuangan itu justru dipatahkan oleh orang yang hidup dengan gaji tetap, status terhormat, dan kenyamanan jabatan.
Darussalam dikenal sebagai kawasan ilmu dan pendidikan. Tetapi kisah di Simpang Galon menunjukkan bahwa gelar tinggi tidak selalu sejalan dengan nurani. Sebab orang berilmu seharusnya melindungi yang lemah, bukan menambah derita mereka.
Kios merah itu mungkin kecil di mata sebagian orang. Namun bagi lima bersaudara itu, kios tersebut adalah dapur mereka, sekolah mereka, dan harapan mereka. Kini kios itu telah digusur. Dan bersama penggusuran itu, ikut roboh pula ketenangan sebuah keluarga kecil yang hanya ingin bertahan hidup. (*)






